Jumat, 30 November 2018

Cerpen DI ANTARA DUA SAHABAT

Karya : Rohmawati Dwi Anggreini


      Namaku Dinda Rahma Anggreini. Ketika itu, aku duduk di bangku SMA kelas XI. Aku tinggal bersama orang tuaku di Desa Gluranploso, Kecamatan Benjeng, Gresik, Jawa Timur. Namun, setelah meninggalnya ayahku, aku mulai terlarut dalam kesedihan, berkali-kali bermimpi bahwa ayah masih ada disampingku. Akhirnya, aku bersama ibuku memutuskan untuk pindah ke kota Bogor, dimana kakek dan nenekku tinggal. Dan harus meninggalkan rumah kecil sejuta kenangan itu. Dari situlah ceritaku dimulai.
      Bogor adalah tempat kelahiranku. Setelah lamanya aku tidak menginjakkan kaki di tanah ini, rasanya hati ini ingin mengenal kota Bogor lebih luas. Disana aku bersekolah di SMAN 1 Bogor. Disekolah itu pula aku kenal dengan Adam dan Aris. Merekalah yang mengajarkan kepadaku tentang arti sebuah persahabatan, cinta, dan kasih sayang. Mereka adalah sahabat akrab sejak kecil. Adam adalah anak dari penjual koran dan Aris adalah anak dari pengusaha bank ternama waktu itu. Meskipun keadaan ekonomi mereka seperti langit dan bumi tetapi tidak ada perbedaan diantara mereka. Mereka tetap kompak dan saling menyayangi.
      Sore itu, sepulang sekolah hari pertama aku masuk sekolah baruku, aku berada dalam sebuah angkot. Angin berhembus menerpa wajahku yang setengah menengok keluar angkot. Hari yang cerah, batinku. Tiba-tiba, suara motor dari belakang angkot terdengar bising ditelingaku. Ternyata itu suara motor Aris, ia sedang membonceng Adam. Dengan cepatnya motor itu menyalip angkot yang aku tumpangi. Akibat terlalu asyiknya menikmati suasana yang cerah, mereka lalai bahwa jalanan licin setelah hujan. Mereka pun tak melihat ada kucing lewat di jalan yang mereka lalui  hingga terkejutnya mereka dan “Ciiiittttt,.... brukk!!!”, suara motor. Mereka tergelincir di jalan dan menabrak sebuah pohon di pinggir jalan.
“Pak, pak,... kiri, pak.” Pintaku kepada sopir angkot. Kemudian aku turun dari angkot dan menolong mereka. Untungnya mereka hanya luka ringan saja.
Paginya, aku hendak berangkat sekolah. Namun, tak satupun angkot melalui jalanku menuju sekolah. Tiba-tiba ada Adam dan Aris muncul, lagi dan lagi. Anehnya mereka tidak naik motor seperti biasanya, melainkan naik sepeda gunung tua.
Ketika ku tanya “Itu sepeda milik siapa?”
“Milik tetangga, Din.” Sahut Aris.
“Lalu mengapa nggak naik motor seperti kemarin?”
“Tidak, Din. Kami takut terjatuh lagi seperti kemarin.” Jawab Adam
“Iya, Din. Aku nggak mau terjatuh dijalanan lagi, sakiiit. Maunya terjatuh dalam pelukanmu.” Sahut Aris sambil tertawa. Aris memang anaknya suka becanda dan terbuka. Beda dengan Adam yang agak pendiam dan cuek.
“Ah, sudahlah. Kalian cepat berangkat, nanti keburu terlambat loh.”
Dengan kompaknya mereka menawariku “Berangkat bareng aku yok, Din?”
“Bareng? Kalian kan boncengan. Terus aku mau kalian taruh dimana?”
“Oh iya.” Kata mereka sambil bertatap muka.
Aku rasa ini anak ada-ada saja. Kemudian ada satu angkot lewat. Aku hentikan angkot tersebut. Setelah aku menaiki angkot itu, mereka menatapku dengan sangat manis. Entah tatapan apa tapi aku merasa bahwa keduanya sedang memendam sesuatu yang sama padaku. Namun, aku berpura-pura tidak tahu sambil berpamitan mengawali berangkat ke sekolah.
Pulangnya, aku dan Aris bertemu di angkot. Dia sengaja tidak pulang bareng Adam karena ingin mengajakku makan siang di Rumah Makan Cahaya. Sebuah rumah makan yang terkenal di daerah itu. Sok akrab banget, baru kenal udah ngajak makan bareng, batinku. Tapi ya sudahlah, kebetulan juga perutku sedang lapar. Sesampainya di rumah makan kami turun dari angkot. Lalu, kami duduk di meja makan dan memesan beberapa menu makanan di situ. Saat kami sedang menunggu makanan di sajikan, lagi-lagi Aris menatapku sambil senyum-senyum sendiri. Tampak dari sorotan matanya bahwa ia ingin mengajakku mengobrol. Awalnya aku cuek dengan Aris, tapi entah mengapa aku mulai merasakan hal yang tidak pernah aku rasakan sebelum itu. Aku merasa sangat nyaman bergurau dengannya.
      Awalnya aku tidak percaya bahwa aku telah menyukai seorang Aris. Apalagi dengan waktu yang begitu sesingkat ini. Namun, perasaan ini terus membelenggu di hati. Rasa nyaman ini membawaku terus-menerus ingin bersamanya. Hampir setiap sepulang sekolah aku menikmati waktu bersamanya. Berkeliling kota naik sepeda berdua. Aku merasa bahwa aku ingin tetap disampingnya.


Setelah banyak kenangan yang sudah aku lalui bersama Aris, tiba-tiba ia tidak masuk sekolah. Ia bilang padaku bahwa ia hanya sakit biasa. Namun, aku tidak sepenuhnya percaya. Aku merasa ia sedang membohongiku agar aku tidak khawatir terhadapnya. Sudah seminggu aku tidak melihatnya masuk sekolah. Aku merasa ada yang aneh. Langsung saja sepulang sekolah aku datangi sahabatnya, Adam. Belum sempat aku berkata apa-apa, ia sudah pergi tergesa-gesa untuk pulang.
“Dam, mau kemana kok tergesa-gesa gitu?”.
“Aku ada urusan. Ada apa, Din?”
“ini, aku mau tanya soal Aris,...”
“Aris masuk rumah sakit, Din. Sudah empat hari ia menginap disana.” Potong Adam.
“Apa? Aris masuk rumah sakit?” Sahutku dengan penuh kawatir.
“Iya, Din. Ya udah aku duluan ya. Mau besuk Aris.”
“Eh..eh.. Aku ikut, Dam.”
“Ayo, Din.”
Setelah itu, aku langsung pulang bersama Adam dan bergegas menjenguk Aris ke rumah sakit. Saat di perjalanan, aku bertanya-tanya tentang Aris kepada Adam. Lalu, ia menjelaskan kepadaku bahwa Aris menderita kanker paru-paru. Aku langsung terkejut mendengar cerita Adam.
Sesampainya di rumah sakit kami langsung menuju kamar Aris. Adam sangat tak tega melihat sahabatnya terbaring lemah di atas kasur. Lalu, ia ke luar untuk menenangkan dirinya. Sementara di kamar itu hanya ada aku, Aris, dan orang tuanya. Di depan orang tuanya pula Aris menyampaikan perasaannya padaku. Saat itu, Adam mendengar apa yang disampaikan Aris kepadaku karena ia hanya berdiri di depan pintu kamar Adam.
      Setelahnya aku keluar dan membuka pintu, aku melihat Adam yang memalingkan wajahnya dariku dan berlari menuju mushola. Seolah-olah dia tidak ingin membagi kesedihannya pada orang lain. Aku pikir Adam hanya sedih karena sahabatnya yang terbaring lemah. Namun, aku salah. Aku berlari mengikuti Adam. Di mushola aku mendengar dia berdoa untuk kesembuhan sahabatnya. Di samping itu, dia juga mencurahkan isi hatinya kepada Tuhannya tentang perasaannya padaku yang sama dengan sahabatnya sendiri.
      Tak lama kemudian ada kabar bahwa Aris semakin kritis. Aku berlari menuju kamar Aris. Namun, Tuhan terlalu cepat mengambil Aris sehingga Aku tidak sempat melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Aku sangat terpukul dengan keadaan ini. Orang yang telah membuatku merasa nyaman meninggalkan dunia untuk selamanya. Sementara itu, Adam langsung pingsan setelah mendengar sahabatnya meninggal. Beberapa saat kemudian, ia sadar dan menerima surat dari dokter. Katanya itu adalah surat dari Aris 1 jam yang lalu sebelum meninggalnya Aris. Pada surat pendeknya itu Aris menuliskan...

Dear sahabatku,
Jangan pernah engkau bersedih karenaku. Aku tahu usiaku sudah tidak lama lagi. Maka, ku tuliskan surat ini untukmu.
Sahabatku, Mungkin kita memang sudah ditakdirkan untuk berpisah. Ketahuilah, kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku temui di dunia ini. Maaf, aku tak sempat memberimu apa-apa. Hanya doa yang bisa kuselipkan dalam mautku.
Sahabatku, aku tahu bahwa kita mencintai seorang wanita yang sama, tapi Tuhan telah memisahkan aku darinya. Dan aku yakin engkaulah orang yang pantas untuknya. Jangan kau sia-siakan dia. Jaga dia baik-baik. Farewell.
-Aris-

     Sebuah pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu juga dengan persahabatan dan cinta. Semua ini adalah takdir manusia. Tentang perasaan ini, aku percaya bahwa cinta memang tidak harus memiliki. Biarlah perasaan ini berjalan dengan apa adanya hingga waktu yang menjawab semuanya.

•••THE END•••


Tidak ada komentar:

Posting Komentar